puisi sebagai alat anti penindasan

melawan sepanjang napas puisi

IRAWAN Mei 6, 2007

Filed under: Uncategorized — herilatief @ 8:20 pm
Tags:

IRAWAN

anaknya sang panglima perang
datang dari pedalaman
busur dan anak panah di tangan
jumpa ayahanda di tengah peperangan
bersujud minta diijinkan maju ke medan laga

arjuna terkejut!
inikah anaknya yang tak pernah diasuhnya?
datang membela pandawa atas nama cinta?

pagi itu sepertinya menulis ironi sejarah
langit kurusetra suram menyeramkan
bagai memberi tanda kepedihan
perang saudara minta korban minta darah
tak perduli pada sedu sedan orang yang kehilangan

lihatlah arjuna!
senja yang muram tersenyum pedih
tanah bersimbah darah pandawa dan kurawa
berlaga demi tahta yang diperebutkan
satu demi satu nyawa beterbangan-berdesakan!
maut tak pernah bertanya anak siapa
irawan pun gugur sebagai kesatria sejati
mati dikeroyok persaudaraan kurawa

wajah arjuna merah menahan sedih dan marah
dipacunya arbapuspa ke tengah pertempuran
dibidiknya pasopati ke arah ribuan musuh
panah sakti melesat ganas mencari nyawa kurawa
tumbang tumbanglah semua yang berani menghadang

keganasan arjuna membalas dendam
dihadang matahari terbenam
tanda “pertandingan” ditunda
besok pagi mereka jumpa lagi
membunuh dan dibunuh
semuanya demi kekuasaan

Jakarta, 13/05/2003

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s