puisi sebagai alat anti penindasan

melawan sepanjang napas puisi

September 25, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — herilatief @ 12:53 am

 

5 Responses to “”

  1. Bung Heri, saya baru baca Akar Rumput Liar dan ada Salam dari Amsterdam.

    Ternyata belum sah pergi ke Belanda kalau belum menginjak tai anjing ya? Karena ada partai binatang yang melindungi binatang, dan sudah masuk parlemen pula. Ini unik, dan menarik. Mudah-mudahan ada lagi cerita lainnya.

    Vrijheid = Blijheid. Kebebasan = kebahagiaan.
    dalam tulisanmu, ternyata ada ketegangan dalam penerapan di lapangan, ketika semboyan itu diterapkan. Film fitna juga bisa jadi salah satu contoh. Kebebasan individu memang besar, tapi kebebasan itu dibatasi oleh kebebasan individu yang lainnya.

    Nah, puisi Diskriminasimu cukup menggoda:

    “puisi ditulis buat siapa?
    jika badai itu menggila
    lalu kita mau apa?
    pasrah dan berdoa?”

    itu hanya satu cuplikan kecil dari puisi-puisimu yang sudah menjadi. Puisi sebagai alat anti penindasan. Menurut saya, itu sah sebagai satu pilihan bagi seorang penyair. Tampaknya semangat Wiji Thukul juga merasuk dalam puisi-puisi Heri Latief. Kalau dianalogikan ke dunia seni rupa, menikmati puisimu sama seperti menikmati lukisan Semsar Siahaan. Keras. Jelas. Tegas. dan anti penindasan. Bravo!

    :) asep

  2. Delima Sri Says:

    Sangat menimbulkan emosi saat membaca semua puisi ini
    Begitulah adanya entah kapan kan berakhir
    Kekejaman dan berebutan kuasa
    dan itulah hasil dari Tameng Pancasila
    Dasar hanya di jadikan hiasan belaka

    salam dari Delima

  3. Delima Sri Says:

    Ik hoop dat ik met jou kennis te kunnen maken

  4. indra fahmi Says:

    hai bung latif…………
    terus berkarya,,,,,,,,,,,,,

  5. Irwan Bajang Says:

    aku suka semua puisimu Bung


Leave a Reply